--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Minggu, 18 Juli 2010

Syair Serba Empat


Syair ini menurut cerita dari mulut ke mulut berasal dari seorang Datu di tanah Banjar (Kalimantan Selatan) bernama DATU SANGGUL di sekitar abad ke - 18 Masehi. Dikutip dari tulisan lama tanpa nama dan tanpa tanggal (tarikh) yang diperkirakan sudah berusia ratusan tahun.

Syair SARABA AMPAT mengisyaratkan kedalaman pengetahuan si-Penyair dengan gaya bahasa daerah menurut zamannya, ditambah pula dengan "raqam" untuk menambah kejelasan terhadap syair tersebut. Sekurang-kurangnya dalam mengacu kepada penelitian dan pengkajian yang lebih mendalam atau kemungkinan sebagai bahan bandingan.

SARABA AMPAT

Allah jadikan saraba ampat
Syariat Thoriqat Hakikat Makrifat
Menjadi satu di dalam khalwat
Rasanya nyaman tiada tersurat

Huruf Allah ampat banyaknya
ALIF `itibar dari pada Zat-Nya
LAM AWAL dan AKHIR sifat dan asma
HA isyarat dari ap`al-Nya

JIBRIL - MIKAIL malaikat mulia
Isyarat sifat JALAL dan JAMAL
IZRAIL - ISRAFIL rupa pasangannya
`Itibar sifat QAHAR dan KAMAL

JABAR - AIL asal katanya
Bahasa Suryani asal mulanya
Kebesaran Allah itu artinya
JALALULLAH bahasa Arabnya

NUR MUHAMMAD bermula nyata
Asal jadi alam semesta
Saumpama api dengan panasnya
Itulah Muhammad dengan Tuhannya.

Api dan banyu tanah dan hawa
Itulah dia alam dunia
Menjadi awak barupa rupa
Tulang sungsum daging dan darah

Manusia lahir ke alam insan
Di alam Ajsam ampat bakawan
Si TUBANIYAH dan TAMBUNIYAH
URIAH lawan Si CAMARIAH

RASA dan AKAL, DAYA dan NAFSU
Didalam raga nyata basatu
AKU meliputi segala liku
Matan hujung rambut ka ujung kuku

TUBUH dan HATI, NYAWA - RAHASIA
Satu yang zhohir amat nyatanya
Tiga yang batin pasti adanya
ALAM SHOGHIR itu sabutnya

MANI-MANIKAM-MADI dan MADZI
Titis manitis jadi manjadi
Si Anak Adam balaksa kati
Hanya tahu Allahu Rabbi

Ka-ampat ampatnya kada tapisah
Datang dan bulik kepada Allah
Asalnya awak dari pada tanah
Asalpun tanah sudah disyarah

Dadalang Simpur barmain wayang
Wayang asalnya si kulit kijang
Agung dan Sarun babun dikancang
Kaler bapasang di atas gadang

Wayang artinya si bayang-bayang
Antara kadap si lawan tarang
Samua majaz harus dipandang
Simpur balalakun hanya saorang

SAMAR, BAGUNG si NALAGARING
Si JAMBULITA suara nyaring
ampat isyarat amatlah panting
Siapa handak mencari haning



Syair ini berbahasa Melayu-Banjar. Kalau memang benar bahwa syair ini adalah dari Datu Sanggul (panggilan untuk seorang Auliya di masa itu dengan sebutan Datu) maka bila dihubungkan dengan kegemaran beliau "menyanggul binatang" (menunggu binatang buruan) sambil bersenandung kecil, yang juga kedudukan beliau yang diberikan sebutan oleh masyarakatnya sebagai seorang Waliullah, maka syair dalam nada-nada Ke-Tuhanan itu cenderung untuk mengakui bahwa syair itu dari beliau. Sepanjang kisah, bila beliau menginginkan binatang buruan untuk makanan anak kampung/desa, beliau cukup "menyanggul" (menunggu) datangnya binatang buruan yang menyerahkan dirinya sebagai korban, sambil bersenandung dengan syair-syair Ke-Tuhanan. Ada sementara catatan bahawa nama asli beliau adalah ABDUL JALIL (Syekh Abdul Jalil)



Arti kata-kata dalam syair:

Khalwat = dzikir/ibadat ditempat yang sepi

Banyu = air

Awak barupa-rupa = tubuh yang bermacam bentuk/rupa

Di Alam Ajsam ampat bakawan = diperut ibu sudah berbentuk manusia dan bersama dengan empat kejadian yang lain

Tubaniah = air ketuban

Tambuniah = Tembuni

Uriyah = ari-ari/uri

Camariah = darah yang mengiringi kelahiran anak

Basatu = bersatu

Segala liku = segala ruang

Matan = dari

Sabutnya = namanya

Balaksa kati = angka yang tak terbatas

Laksa = 10.000

Kati = 100.000

Kada Tapisah = tidak terpisah

Sudah disyarah = sudah dijelaskan

Dadalang Simpur = Dalang yang bernama Simpur

Agung = gong

Sarun = saron

Babun dikancang = genderang dikencangkan talinya

Kaler = kain layar untuk bermain wayang

Gadang = batang pisang

Antara kadap silawan tarang = antara gelap dan terang

Majaz = bayang (arab)

Saurang = sendiri

Balalakun = berbuat sekehendaknya

Samar = Semar

Bagung = Bagong

Nalagaring = Gareng

Jambulita = Petruk

Haning = hening

sumber : http://jalansufi.com/laman-utama/syair-serba-empat


Rabu, 14 Juli 2010

Istilah Dalam Pencak Silat

Sikap dan Gerak

Pencak silat ialah sistem yang terdiri atas sikap (posisi) dan gerak-gerik (pergerakan). Ketika seorang pesilat bergerak ketika bertarung, sikap dan gerakannya berubah mengikuti perubahan posisi lawan secara berkelanjutan. Segera setelah menemukan kelemahan pertahanan lawan, maka pesilat akan mencoba mengalahkan lawan dengan suatu serangan yang cepat.

Langkah

Ciri khas dari Silat adalah penggunaan langkah. Langkah ini penting di dalam permainan silat yang baik dan benar. Ada beberapa pola langkah yang dikenali, contohnya langkah tiga dan langkah empat.

Teknik atau Buah

Pencak Silat memiliki macam yang banyak dari teknik bertahan dan menyerang. Secara tradisional istilah teknik ini dapat disamakan dengan buah. Pesilat biasa menggunakan tangan, siku, lengan, kaki, lutut dan telapak kaki dalam serangan. Teknik umum termasuk tendangan, pukulan, sandungan, sapuan, mengunci, melempar, menahan, mematahkan tulang sendi, dan lain-lain.

Jurus

Pesilat berlatih dengan jurus-jurus. Jurus ialah rangkaian gerakan dasar untuk tubuh bagian atas dan bawah, yang digunakan sebagai panduan untuk menguasai penggunaan tehnik-tehnik lanjutan pencak silat (buah), saat dilakukan untuk berlatih secara tunggal atau berpasangan. Penggunaan langkah, atau gerakan kecil tubuh, mengajarkan penggunaan pengaturan kaki. Saat digabungkan, itulah Dasar Pasan, atau aliran seluruh tubuh.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Pencak_silat

Sejarah Pencak Silat

     Tradisi silat diturunkan secara lisan dan menyebar dari mulut ke mulut, diajarkan dari guru ke murid. Karena hal itulah catatan tertulis mengenai asal mula silat sulit ditemukan. Kebanyakan sejarah silat dikisahkan melalui legenda yang beragam dari satu daerah ke daerah lain. Seperti asal mula silat aliran Cimande yang mengisahkan tentang seorang perempuan yang menyaksikan pertarungan antara harimau dan monyet dan ia mencontoh gerakan tarung hewan tersebut. Asal mula ilmu bela diri di Indonesia kemungkinan berkembang dari keterampilan suku-suku asli Indonesia dalam berburu dan berperang dengan menggunakan parang, perisai, dan tombak. Seperti yang kini ditemui dalam tradisi suku Nias yang hingga abad ke-20 relatif tidak tersentuh pengaruh luar.
     Silat diperkirakan menyebar di kepulauan nusantara semenjak abad ke-7 masehi, akan tetapi asal mulanya belum dapat dipastikan. Meskipun demikian, silat saat ini telah diakui sebagai budaya suku Melayu dalam pengertian yang luas,[1] yaitu para penduduk daerah pesisir pulau Sumatera dan Semenanjung Malaka, serta berbagai kelompok etnik lainnya yang menggunakan lingua franca bahasa Melayu di berbagai daerah di pulau-pulau Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lainnya juga mengembangkan sebentuk silat tradisional mereka sendiri. Dalam Bahasa Minangkabau, silat itu sama dengan silek. Sheikh Shamsuddin (2005)[2] berpendapat bahwa terdapat pengaruh ilmu beladiri dari Cina dan India dalam silat. Bahkan sesungguhnya tidak hanya itu. Hal ini dapat dimaklumi karena memang kebudayaan Melayu (termasuk Pencak Silat) adalah kebudayaan yang terbuka yang mana sejak awal kebudayaan Melayu telah beradaptasi dengan berbagai kebudayaan yang dibawa oleh pedagang maupun perantau dari India, Cina, Arab, Turki, dan lainnya. Kebudayaan-kebudayaan itu kemudian berasimilasi dan beradaptasi dengan kebudayaan penduduk asli. Maka kiranya historis pencak silat itu lahir bersamaan dengan munculnya kebudayaan Melayu. Sehingga, setiap daerah umumnya memiliki tokoh persilatan yang dibanggakan. Sebagai contoh, bangsa Melayu terutama di Semenanjung Malaka meyakini legenda bahwa Hang Tuah dari abad ke-14 adalah pendekar silat yang terhebat.[3] Hal seperti itu juga yang terjadi di Jawa, yang membanggakan Gajah Mada.
     Perkembangan dan penyebaran silat secara historis mulai tercatat ketika penyebarannya banyak dipengaruhi oleh kaum Ulama, seiring dengan penyebaran agama Islam pada abad ke-14 di Nusantara. Catatan historis ini dinilai otentik dalam sejarah perkembangan pencak silat yang pengaruhnya masih dapat kita lihat hingga saat ini. Kala itu pencak silat telah diajarkan bersama-sama dengan pelajaran agama di surau-surau. Silat lalu berkembang dari sekedar ilmu beladiri dan seni tari rakyat, menjadi bagian dari pendidikan bela negara untuk menghadapi penjajah. Disamping itu juga pencak silat menjadi bagian dari latihan spiritual. [2]
     Silat berkembang di Indonesia dan Malaysia (termasuk Brunei dan Singapura) dan memiliki akar sejarah yang sama sebagai cara perlawanan terhadap penjajah asing. [3] . Setelah zaman kemerdekaan, silat berkembang menjadi ilmu bela diri formal. Organisasi silat nasional dibentuk seperti Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) di Indonesia, Persekutuan Silat Kebangsaan Malaysia (PESAKA) di Malaysia, Persekutuan Silat Singapore (PERSIS) di Singapura, dan Persekutuan Silat Brunei Darussalam (PERSIB) di Brunei. Telah tumbuh pula puluhan perguruan-perguruan silat di Amerika Serikat dan Eropa. Silat kini telah secara resmi masuk sebagai cabang olah raga dalam pertandingan internasional, khususnya dipertandingkan dalam SEA Games.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Pencak_silat

Sejarah Kung Fu Islam


Salah satu bagian sejarah Muslim China adalah Kung Fu Muslim. Ahli-ahli kungfu muslim dilatih secara rutin dan keras, melalui perjalanan tak henti menuju kesempurnaan fisik dan spiritual, siap melayani sebuah inspirasi jangka panjang pada komunitas Muslim mereka dan rasa kecintaan pada negaranya, China. Mereka telah secara luas menyebarkan pengetahuan mereka tentang seni. Hanya beberapa dari mereka yang benar-benar siap, tulus dan mampu untuk melakukan ketaatan total yang berhak mendapatkan warisan teknik-teknik khusus tertentu dari para guru. Ketinggian tingkat seorang Master Kungfu diukur dengan keterbukaan pikiran dan kemahiran dalam pertempuran dan penguasaan nilai-nilai filosofis.
Kronologi 1400 tahun Islam di Cina hampir seusia hadits yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad saw,"Orang yang paling kuat bukanlah orang yang mampu menggulingkan musuhnya dalam suatu pertandingan gulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika dia marah". Hikmah kebijaksanaan seperti ini dipegang para Ahli Kungfu Muslim selama berabad-abad, dipadukan dalam pengembangan diri dan pengembangan "Chi" (tenaga dalam) yang digunakan untuk menaklukan sifat binatang di dalam diri dan membantu mereka meningkatkan penguasaan bela diri.
Ahli Kungfu muslim telah berhasil melakukan harmonisasi internal dan eksternal Kungfu, yang kemudian berhasil meninggalkan bekas dalam keimanan mereka, melakukan "ijtihad" yang luar biasa dalam mengembangkan secara efektif seni bela diri mereka sendiri, yang didasarkan pada nilai-nilai agama Islam, akhlaq, bebas dari rasa permusuhan dan ambisi. Dilambangkan dalam istilah "Jiao-men", yang berarti "sect fighting", disimbolkan dengan "Hui" yang oleh para pendahulu dikenal sebagai "ritual suci", untuk dapat bersikap tabah dalam situasi sulit dan untuk mendorong daya tahan para pemuda Muslim yang belajar di pekarangan masjid. Hal ini kemudian secara sporadis menumbuhkan jurus "Pukulan Muslim", yang nantinya menghasilkan khazanah Ahli Kungfu Muslim.
Seni bela diri muslim lokal seringkali sangat menunjukkan perbedaaan, dengan menggunakan nama-nama Islami (Arab) dan dalam hal efektifitas teknis di dunia kungfu. Keberadaan mereka dengan cepat menjadi terkenal di penjuru China, dengan memenangi banyak kompetisi tarung bebas hingga pelatihan pengawal  senior Presiden China. Interpretasi Kung Fu Muslim secara literal berada dalam jajaran jurus-jurus paling utama, ditambah lagi dengan banyak cara-cara baru dalam seni menggambarkan tubuh manusia, yang kemudian menjadi panduan biksu-biksu Shaolin dan sekolah-sekolah "Quanshu" (seni bela diri)
Sejarah muslim China melewati berbagai perjuangan dan tekanan-tekanan ekonomi, dimulai dari nenek moyang mereka yang pertama kali merapat di pelabuhan terkenal di Guangzhou dan al Zaytun (Quanzhou), melewati perjalanan berbahaya di laut dan di darat untuk melakukan perdagangan, yang kemudian mentransformasi mereka menjadi para ahli pada masa-masa awal abad perdagangan Timur dan Barat. Berabad-abad kemudian, Master Cheng Ho, tokoh muslim yang dikenal dimana-mana, berhasil mengkombinasikan keahlian bela diri dan kepemimpinan di Angkatan Laut Dinasti Ming.

Selasa, 13 Juli 2010

Warga Baru

 
by: semutANGKASA@yahoo.com